Profile

2 thoughts on “Profile

  1. BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR
    Oleh: Cucu Sutarsyah
    Dosen PS Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Lampung

    Pada dasarnya tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semakin baik kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia semakin baik kualitasnya, terutama pada era globalisasi. Perdebatan tentang perlu tidaknya Pembelajaran Bahasa Inggris di SD masih merupakan topik yang hangat, terutama berkaitan dengan pemberlakuan kurikulum 2013 (Lampost, 30 Agustus 2013). Banyak yang tidak setuju pelajaran bahasa Inggris di SD dihilangkan. Masing-masing punya argumentasi yang menurutnya benar. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyoal kurikulum 2013 tentang pembelajaran bahasa Inggris di SD, namun, yang penting ialah mempertimbangkan layak atau tidaknya Pembelajaran Bhs. Inggris di SD. Ada pihak yang berpendapat bahwa Pembelajaran Bahasa Inggris di SD kurang bermanfaat dan membuang waktu, tenaga, dan dana. Sebaliknya ada yang berpendapat bahwa Pembelajaran Bhs. Inggris di SD perlu diselenggarakan berdasarkan beberapa pertimbangan. Misalnya, di Gorontalo, pemerintah setempat mengangkat PNS guru bahasa Inggris di setiap SD.

    Beberapa Kendala
    Pihak yang tidak setuju Bhs. Inggris diajarkan di SD mengemukakan beberapa pertimbangan untuk tidak memasukkan mata pelajaran Bhs. Inggris di SD, antara lain (1) Mereka menganggap bahwa anak SD tidak perlu keterampilan Bahasa Inggris karena tidak ada gunanya; (2) Sudah terlalu banyak mata pelajaran yang diberikan di SD, sehingga sulit bagi anak-anak untuk mempelajari bahan yang terlalu banyak; (3) Anak-anak SD berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Banyak murid yang ketika masuk SD berbahasa daerah, bukan berbahasa Indonesia. Mereka berargumen, bagaimana menguasai Bhs. Inggris, sedang bahasa Indonesia saja sulit; (4) Keterbatasan dana untuk menyediakan guru dan sarana lainnya, dan banyak hal lain.
    Kurikulum 2013 nampaknya muncul berdasarakan beberapa pertimbangan di atas. Secara implisit Kurikulum 2013 tidak menganjurkan B. Inggris diajarkan di SD, namun juga nampaknya tidak melarang untuk diajarkan

    Teori Pemerolehan Bahasa
    Di sisi lain, masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk proses pemerolehan bahasa. Bahasa apapun dapat diserap oleh setiap anak yang normal asalkan hal-hal yang menunjang pemerolehan bahasa terpenuhi, seperti lingkungan belajar anak. Setiap anak lahir bersama kapasitas internal untuk memperoleh bahasa. Oleh karena itu upaya pembelajaran belajar bahasa Inggris sejak usia SD cukup bijaksana, sehingga pada usia dewasa beban belajar menjadi lebih ringan.
    Kemampuan internal ini disebut Language Acquisition Device (LAD), perangkat pemerolehan bahasa. Kapasitas ini akan menurun mulai umur 12 tahun. Dengan demikian, anak sampai umur 12 tahun adalah masa yang terbaik untuk belajar bahasa apapun termasuk Bahasa Inggris. Artinya belajar bahasa pada masa kanak-kanak lebih baik ketimbang pada masa setelah itu atau masa dewasa. Jadi, menurut teori ini pembelajaran Bhs. Inggris sejak dini pada usia SD sangat tepat dan berguna untuk penguasaan Bhs. Inggris. Kalau terjadi kegagalan, dapat dipastikan ada hal yang belum terpenuhi untuk proses pemerolehan; mungkin faktor psikologis atau mungkin faktor keadaan atau situasi lingkungan belajar, terutama gurunya.
    Tentunya perlu diperhatikan bahwa proses itu tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Proses pemerolehan Bhs. Inggris berbeda dengan proses pemerolehan bahasa pertama yang didukung oleh lingkungan secara optimal. Penyelenggara pendidikan harus berusaha menciptakan lingkungan yang menunjang proses itu. Oleh karena itu, peran guru sangat penting untuk menciptakan suasana tersebut.
    Walaupun keterampilan Bhs. Inggris bukan segala-galanya tanpa keterampilan lain, beberapa kasus menunjukkan, misalnya, angkatan kerja yang dilengkapi dengan keterampilan Bhs. Inggris memiliki nilai tambah yang sangat berarti. Di samping itu, dengan keterampilan Bhs. Inggris peningkatan SDM akan semakin cepat dan berkualitas.
    Selain itu, kita sudah sering mendengar bagaiman lemahnya penguasaan bahasa asing di kalangan sarjana kita. Kebanyakan kita belajar Bhs. Inggris setelah kita dewasa, masa yang kurang kondusif untuk belajar berbahasa. Mereka mulai ingin belajar Bhs. Inggris setelah menyadari pentingnya Bhs. Inggris. Selama itu mereka jarang sekali menggunakan bahasa Inggris sebagai suatu kebutuhan, semisal dalam membaca. Mereka tidak berusha menjalin hubungna dengan orang asing dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai medianya. Mungkin inilah penyebab kegagalan Pembelajaran Bhs. Inggris di Indonesia.

    Kondisi Pembelajaran di SD
    Yang sering terjadi ialah penyelenggara sekolah menentukan mata pelajaran Bhs. Inggris di SD tanpa mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas. Mereka menganggap bahwa Pembelajaran Bhs. Inggris di SD sangat sederhana dan mudah dan tidak memerlukan guru yang cakap. Bahkan kebanyakan guru Bhs. Inggris di SD tidak memiliki latar belakang pendidikan Bhs. Inggris yang memadai. Mereka yang sedikit dapat berbicara bahasa Inggeris sudah diserahi tugas mengajar Bhs. Inggris di SD. Perlu diperhatikan bahwa bagi anak-anak usia SD, pembelajaran Bhs. Inggris akan bermasalah apabila dilakukan oleh guru yang belum memiliki kompetensi professional, yaitu kemampuan skill berbahasa dan mengajarkannya. Kalau guru memberi contoh yang salah dalam mengajar, kesalahan itu akan terekam dibawah sadar siswa dan sulit diubah.
    Ironisnya, banyak sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran Bhs. Inggris di SD hanya untuk memperoleh status dan prestise tanpa memperhatikan kualitasnya. Di lain pihak, banyak orang tua yang berlomba-lomba mencari sekolah yang mengajarkan bahasa Inggris di SD dengan dalih mempersiapkan lebih awal ke masa depan yang lebih baik, tanpa melihat proses pembelajarannya.

    Yang Harus Diperhatikan
    Seperti telah dijelaskan, beberapa penelitian tentang dampak pembelajaran Bhs. Inggris di SD mengisysratkan bahwa pembelajaran Bhs. Inggris di SD kurang bermanfaat. Diduga keras permasalahannya tidak terletak pada manfaat pembelajarannnya bagi pembelajaran selanjutnya, tetapi pada pelaksanaan pembelajaran yang tidak benar; misalnya, menganggap pembelajaran Bhs. Inggris terlalu sederhana, sehingga tidak diperlukan guru yang professional dan tidak perlu penanganan yang serius, dsb.
    Di samping itu, sekolah juga tidak mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk terjadinya proses pembelajaran yang kondusif, misalnya media pembelajaran, seperti tape (lebih baik lagi dengan video dengan bahannya), buku pelajaran, lingkungan belajar, dll. Peralatan ini menjadi penting karena lingkungan belajar kurang mendukung terjadinya proses belajar yang alamiah seperti pada bahasa pertama.
    Selain itu, bahan dan proses belajar harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Usia SD adalah masa bermain sehingga sebaiknya dilakukan sambil bermain. Pembelajaran lebih baik diarahkan pada penggunaan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan dunia anak, seperti story telling (mendengar dongeng) bernyanyi, bermain game, mendengar dan menceritakan gambar yang menarik, bahkan menonton film kartun berbahasa Inggris sangat membantu. Intinya, anak harus banyak mendapatkan keterampilan receptive, misal, mendengar dan memahami cerita yang bermakna (comprehensible input), biasanya menyangkut hal-hal yang menarik minat anak. Keterampilan ini kemudian ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai mereka memiliki sediaan kosa kata yang cukup. Semua kegiatan dilakukan dengan menyenangkan, gembira, tanpa ada tekanan yang menimbulkan kecemasan. Dengan memaksa anak untuk berbicara sementara mereka tidak mampu atau tidak mau adalah ancaman yang menimbulkan tekanan dan stres. Tata bahasa tidak diajarkan secara formal dan eksplisit, tetapi terselubung dan tidak langsung melalui proses pembiasaan. Dengan demikian pemebelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak menjadi beban yang pada akhirnya menjadi suatu kebutuhan.
    Selanjutnya, bahasa dalam bahan ajar biasanya berbeda dengan bahasa orang dewasa, misalnya (1) Berubungan dengan “ini”, “itu”, “sekarang “, dll; (2) Diucapkan dengan pelan, jelas, dan sering diulang; (3) Kalimat sederhana (bukan kompleks); (4) Variasi tenses yang terbatas, misalnya present (continuous) tense; (5) Kosa katanya terbatas tapi banyak pengulangan dan berhubungan dengan dunia anak.
    Demikian pula, bahan evaluasinya tidak harus selalu tata bahasa, tetapi agak mengarah ke hal yang bersifat komunikatif. Pembelajaran yang hanya terfokus pada pengetahuan bahasa, seperti tata bahasa yang eksplisit (menjelaskan subjek-predikat, singular-plural, regular-irregular, verbs, nouns, adjectives, adverbs, dsb), dan penghafal kata-kata tidak banyak manfaatnya.
    Tulisan ini merupakan bahan pertimbangan tentang pembelajaran Bhs. Inggris di SD, kita harus merencanakan, dan kemudian mempersiapkan secara matang hal-hal yang dibutuhkan terutama guru yang profesional. Apabila hal ini tidak terpenuhi, lebih baik pembelajaran tidak dilaksanakan karena akan menjadi beban yang tidak bermanfaat dan akan merusak motivasi belajar.
    Sekali-kali jangan menyelenggarakan Pembelajaran bahasa Inggris di SD secara asal-asalan hanya untuk mengejar status dan prestise atau latah-latahan tanpa adanya upaya untuk memcapai hakekat belajar bahasa dan tujuan belajar bahasa, yaitu berkomunikasi.

  2. Pendidikan dan masalahnya
    Oleh: Cucu Sutarsyah
    Paradigma pendidikan menyatakan bahwa pada hakekatnya tujuan pendidikan adalah untuk membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan keterampilan yang akan bermanfaat sebagai bekal hidup di masa datang. Apakah pernyataan ini disadari oleh para siswa, pendidik, dan para orang tua? Saya yakin tidak semua, bahkan sebagaian besar dari mereka tidak menyadari itu. Yang sering terjadi adalah bahwa sejak kecil anak-anak dipacu untuk menjadi yang terbaik sekalipun dengan cara culas. Guru dan orang tua mencetak mereka menjadi robot pemburu ijazah denganmengabaikan proses. Anak masuk SD agar mereka dapat ijazah sehingga mereka dapat masuk SMP; demikian juga anak masuk SMP agar mereka dapat ijazah agara merak dengan ijazah itu dia masuk SMA, dst. Dengan hal yang sama mereka cari ijazah agar mereka dapat pekerjaan dengan ijazahnya itu. Carut marut Ujian Nasional sudah jelas membukatikan itu. Kepala sekolah dan guru (tentunya tidak semua) menggunakan segala cara agar anak didiknya lulus. Penggunaan cara yang culas ini nyata terlihat didepan mata siswa. Itu artinya siswa secara tidak langusung diajari dengan hal-hal yang merusak moral.
    Semua terfokus pada hasil dan melupakan proses. Jadi tujuan belajar adalah semata-mata untuk mencapai bagaimana lulus ujian dengan nilai terbaik. Kepala sekolah memerintahkan guru untuk membahas soal ujian dalam proses belajarnya. Seorang ahli pendidiakn mengatakan apabila seorang guru menghabiskan waktunya di depan kelas untuk mengajarkan bagaimana menjawab soal ujian, maka guru itu dianggap telah melakukan kriminal, korupsi di bidang pendidikan.
    Iliustrasi yang sederhana pada guru bahasa, misal, Bahasa Inggris. Tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa itu sebagai alat komunikasi. Jadi seharusnya tugas guru menciptakan suasana belajar pada siswa bagaimana berbahasa dengan baik, mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Maka ketika guru sehari-harinya mengajarkan siswa bagai mana menjawab soal, misal, soal objektif, dengan memilih a, b, c, atau d., kita dapat menduga apa hasil belajarnya? apakah kemampuan berkomunikasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *